BacaritaMaluku.Com–Ambon; Pasca konflik di Hunut Ambon Maluku, Fredi Moses Ulemlem Praktisi hukum mengajak masyarakat Maluku agar sama-sama mencegah konflik dan menjaga hubungan baik, lakukan komunikasi yang terbuka dan tenang, dengarkan dengan empati, hindari menyalahkan, cari titik temu, dan kelola emosi dengan baik. Menghargai perbedaan dan menetapkan batasan yang jelas juga penting untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan meminimalkan potensi perselisihan.
Hindari mengeluarkan kata-kata kasar, membentak, atau menggunakan bahasa tubuh yang agresif yang dapat memicu konflik lebih lanjut. Hindari ” Alih-alih” mencari siapa yang salah, arahkan diskusi untuk mencari solusi bersama yang bisa diterima semua pihak.
Kita sama-sama harus mampu memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda, dan hal ini adalah sesuatu yang wajar.Cari titik tengah
Ketika ada perbedaan pendapat, cobalah untuk mencari kesepakatan atau kompromi yang dapat diterima oleh semua pihak.
Kita harus sadar bahwa konflik dapat mengganggu integrasi sosial, menciptakan trauma psikologis, dan merusak keharmonisan masyarakat. Generasi muda Maluku harus fokus siapkan SDM untuk hadapi masa depan menuju Indonesia emas dan bonus demografi 2045, jangan kita anak-anak Maluku ketinggalan haya karena gara-gara konflik.
Saya ingin Maluku itu hebo dengan di hebohkan Indonesia dengan prestasi diberbagai bidang dan yang berprestasi adalah anak-anak Maluku. Saya ingin berita Nasional diramaikan dengan prestasi bukan konflik. Saya ingin Maluku hebo karena kamajuan daranya bukan karena konflik.
Sebab saya lihat prestasi Indonesia Timur yakni Papua, Maluku dan NTT hebo di level nasional karena karya -karya lagunya timurnya, dan mampu menggeser dunia musik pop nasional, lagi daerah kita justru menguasai semu kalangan. Itu baru Maluku, itu baru bilang kita hebat, bukan berkonflik seperti ini.
Jujur bahwa kami anak-anak Maluku yang ada di rantau juga terus bekerja keras berusaha membersihkan stigma-stigma negatif yang selama ini disematkan kepada kita yaitu stigma kekerasan dengan tampil secara intelektual dalam berbagai bidang profesi kami, mari bergandengan tangan buktikan bahwa kita Maluku tidak kalah dengan daerah lain dari sisi SDM -nya, tidak seperti yang distigmakan di tengah -tengah masyarakat daerah lain di Indonesia.***













































































