BacaritaMaluku. com–Ambon, Maluku; Setelah hampir dua tahun memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Jenderal Polisi Dr. Marthinus Hukom resmi diganti oleh Presiden Prabowo Subianto. Posisinya kini diisi oleh Irjen Pol Suyudi Ario Seto, yang sebelumnya menjabat Kapolda Banten.
Pergantian ini menandai berakhirnya kiprah Marthinus di lembaga yang bertugas memerangi narkotika secara nasional.
Seiring dengan pergantian tersebut, perhatian publik terutama di Maluku tertuju pada status WhatsApp Marthinus Hukom yang diunggah dini hari, Rabu (27/08).
Dalam unggahan itu ia menuliskan, “Aku diam bukan karena aku mengalah. Aku diam karena pembalasan bukan hakku, tapi adalah hak Tuhan. Maka siaplah menunggu yang berhak melakukan pembalasan itu.” Kalimat tersebut memunculkan spekulasi luas tentang perasaan pribadi Marthinus pasca pencopotan dirinya dari kursi Kepala BNN.
Status itu bisa dibaca sebagai ekspresi kekecewaan, namun sekaligus menunjukkan sikap religius Marthinus yang menyerahkan segala keputusan dan konsekuensinya kepada Tuhan.
Ungkapan “aku diam bukan karena aku mengalah” dapat dipahami sebagai penegasan bahwa dirinya bukan sosok yang pasrah begitu saja, melainkan memilih diam karena meyakini ada otoritas yang lebih tinggi yang berhak menilai dan membalas.
Sementara kalimat “pembalasan bukan hakku, tapi adalah hak Tuhan” menandakan adanya keteguhan iman, seolah ingin menyampaikan bahwa pergantian jabatan adalah bagian dari rencana yang lebih besar di luar kuasa manusia.
Bagi sebagian tokoh Maluku, status tersebut dianggap sarat makna politis. Ada yang menafsirkannya sebagai bentuk sindiran halus kepada, ada pula yang menilai itu sebagai sikap ksatria seorang jenderal yang tidak ingin terjebak dalam polemik.
Dalam tradisi masyarakat Maluku, diam dan menyerahkan persoalan kepada Tuhan kerap dimaknai sebagai wujud kedewasaan sekaligus peringatan bagi pihak yang dianggap telah berlaku tidak adil.
Yang jelas, unggahan singkat itu telah meninggalkan kesan mendalam bagi publik, sekaligus memperlihatkan sisi reflektif seorang perwira tinggi polisi yang pernah dipercaya memimpin perang melawan narkotika di Indonesia.***














































































