Bacaritamaluku. com; Berdasarkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Seram Bagian Barat tahun 2024, tercatat jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Huamual sebanyak 46.967 jiwa ,wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di kabupaten seram bagian barat yang berpotensi berkontribusi secara sektoral ,mirisnya dengan adanya Pemotongan anggaran infrastruktur oleh pemerintah pusat, sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi anggaran
Peraturan Nomor 1 Tahun 2025 juga menegaskan bahwa seluruh anggaran infrastruktur yang berasal dari daur peruntukan akan dipangkas. Pemotongan ini tidak hanya berlaku di tingkat provinsi, tetapi juga di Kabupaten SBB. pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan jalan di kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat SBB Maluku. Salah satu proyek yang terkena dampak adalah perbaikan Jalan Lintas Huamual, yang menjadi jalur utama penghubung antarwilayah serta tulang punggung perekonomian masyarakat huamual.
Pj Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Dr. Achmad Jais Ely, mengungkapkan bahwa miliaran rupiah dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun 2025 telah disiapkan untuk proyek infrastruktur, termasuk perbaikan Jalan Lintas Huamual . Namun,Pengalihan anggaran ke program ketahanan pangan nasional berpotensi menyebabkan proyek ini di tunda,dikarenakan adanya pemangkasan terutama pada Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi.
Komplikasi dari efesiensi anggaran ini juga dapat menghambat mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian dan perikanan. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam sektor ekonomi, tetapi juga berdampak pada akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Infrastruktur jalan yang tidak memadai berpotensi meningkatkan biaya logistik, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan memperlebar kesenjangan pembangunan antarwilayah di seram bagian barat SBB.
Efisiensi anggaran ke daerah seharusnya mempertimbangkan kondisi spesifik di setiap wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi geografis, jumlah penduduk, maupun situasi sosial-ekonominya.
Sebagai contoh, ada daerah yang belum bisa mengandalkan teknologi dalam upaya efisiensi bukan karena enggan, tetapi karena infrastrukturnya belum tersedia atau tidak memadai. Bagaimana mungkin memanfaatkan internet jika sinyal dan listrik saja tidak cukup baik, Begitu pula dengan budaya serta kegiatan tertentu yang memang harus dilakukan secara langsung. Jika dipaksakan menggunakan metode daring, tentu hal ini akan menimbulkan kendala.
Selain itu, daerah SBB sangat bergantung pada dana APBN dalam pembangunan infrastruktur karena Pendapatan Asli Daerah (PAD) mereka masih minim. Pengurangan dana APBN yang ditransfer ke daerah berdampak pada terhambatnya berbagai proyek pembangunan.
Rendahnya kontribusi PAD menunjukkan bahwa Kabupaten SBB masih sangat bergantung pada dana perimbangan dari pemerintah pusat. Ketergantungan ini mencerminkan tingkat kemandirian fiskal yang masih rendah, di mana rasio ketergantungan fiskal terus berada di atas 95%, sementara rasio kemandirian fiskal belum mampu menembus angka 5% dalam struktur pendapatan daerah.
Situasi ini menegaskan perlunya adanya keseimbangan dalam kebijakan alokasi anggaran, agar efisiensi anggaran tetap sejalan dengan kepentingan pembangunan jangka panjang serta kesejahteraan masyarakat di daerah kecamatan huamual.
Masyarakat di kecamatan Huamual, yang sehari-hari bergantung pada akses jalan lintas Huamual. Jalan yang seharusnya menjadi arus perekonomian dan mobilitas warga justru menjadi penghambat aktivitas.***


















































































