BacaritaMaluku.com–Ambon; Kematian Fikram Heluth, warga Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), masih menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga.
Fikram sebelumnya ditemukan meninggal dunia di kawasan Sopalatu, Desa Luhu. Namun, keluarga korban hingga kini meragukan dugaan bahwa Fikram meninggal akibat bunuh diri.
Melalui tim kuasa hukum yang terdiri dari Abdul Safri Tuakia, Rosni Lestaluhu, Herman Masry dan Umar Tuasikal, keluarga meminta aparat penegak hukum mengusut kematian Fikram secara menyeluruh dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum seluruh bukti serta keterangan saksi diperiksa. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Ambon, Minggu (13/9/2026).
Enam Orang Jadi Perhatian Keluarga
Kuasa hukum keluarga, Abdul Safri Tuakia, mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusuran keluarga dan keterangan sejumlah saksi, sedikitnya terdapat enam orang yang dianggap perlu dimintai keterangan karena diduga mengetahui aktivitas maupun keberadaan Fikram sebelum ditemukan meninggal dunia.
Menurut Tuakia, salah satu titik penting yang perlu didalami adalah keberadaan seseorang yang disebut sebagai salah satu orang terakhir yang berkomunikasi atau bersama korban sebelum Fikram menuju kawasan Sopalatu.
Keluarga juga memperoleh keterangan bahwa pada salah satu malam, seseorang yang menjadi perhatian keluarga tersebut disebut terlihat oleh pasangan suami istri di sekitar kawasan Pintu Tujuh Sopalatu sekitar pukul 21.00 WIT.
Keterangan itu dinilai penting karena sebelumnya orang tersebut disebut menolak permintaan Fikram untuk mengantarnya dengan alasan kondisi kawasan pada malam hari dianggap rawan.
“Orang tersebut merupakan salah satu yang terakhir bersama korban. Karena itu, keterangannya sangat penting untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi,” kata Tuakia.
Meski demikian, Tuakia menegaskan bahwa informasi tersebut masih berupa keterangan yang perlu diverifikasi dan diuji oleh penyidik.
Fikram Berangkat Naik Ojek
Tuakia menjelaskan, rangkaian peristiwa bermula ketika Fikram meninggalkan rumah menuju kawasan Sopalatu dengan menggunakan jasa ojek.
Setelah tiba di kawasan tersebut, Fikram disebut sempat membeli Pop Mie. Bahkan, korban disebut sempat mengajak pengemudi ojek yang mengantarnya untuk makan bersama.Namun, ajakan tersebut tidak diterima.
Setelah itu, Fikram dan pengemudi ojek berpisah. Pengemudi tersebut kemudian disebut melanjutkan perjalanan kembali menuju kawasan Bambu Kuning atau wilayah lainnya. Sejak saat itu, keluarga mengaku tidak lagi dapat berkomunikasi dengan Fikram.
Menurut Tuakia, salah satu persoalan yang membuat pencarian menjadi sulit adalah korban disebut tidak membawa telepon seluler ketika meninggalkan rumah. Kondisi tersebut membuat keluarga mulai cemas setelah Fikram tidak kunjung kembali.
Keluarga Lakukan Pencarian Sendiri
Rosni Lestaluhu mengatakan, keluarga akhirnya berinisiatif melakukan pencarian bersama sejumlah warga Desa Luhu. Pencarian dilakukan secara mandiri karena Fikram tidak kunjung pulang dan tidak dapat dihubungi.
Upaya tersebut kemudian membuahkan hasil. Fikram ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Sopalatu, dengan tubuh terlilit tali pada sebuah pohon.
“Keluarga berinisiatif melakukan pencarian sendiri karena korban tidak kunjung pulang. Setelah dilakukan pencarian, korban akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi terlilit tali pada sebuah pohon,” jelas Rosni.
Namun, penemuan tersebut justru memunculkan sejumlah pertanyaan baru bagi keluarga. Kondisi Tubuh Korban Jadi Sorotan
Rosni mengatakan keluarga mengaku melihat adanya sejumlah kondisi atau luka pada tubuh Fikram ketika korban ditemukan.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan keluarga meminta agar penyebab kematian tidak langsung disimpulkan sebagai bunuh diri.
Terlebih, menurut keluarga, sebelumnya telah beredar informasi yang mengarah pada dugaan bahwa Fikram meninggal karena bunuh diri.
Keluarga mengaku tidak ingin menerima kesimpulan tersebut begitu saja sebelum terdapat penjelasan medis dan forensik yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Informasi bunuh diri itu kemudian menjadi perhatian keluarga. Mereka ingin mengetahui fakta sebenarnya, terlebih setelah melihat adanya luka pada tubuh korban,” ujar Tuakia.
Bagi keluarga, pertanyaan utama bukan sekadar bagaimana Fikram ditemukan, tetapi apa yang terjadi terhadap korban sebelum berada di lokasi tersebut.
Karena itu, keluarga meminta penyidik menelusuri seluruh rangkaian aktivitas korban sejak meninggalkan rumah, perjalanan menuju Sopalatu, orang-orang yang berinteraksi dengannya, hingga kondisi korban ketika ditemukan.
Saksi Sebut Melihat Orang Keluar dari Semak-semak
Dalam penelusuran informasi, keluarga juga menemui sejumlah warga yang berada di sekitar jalur menuju lokasi ditemukannya Fikram.
Tuakia mengungkapkan, terdapat dua perempuan yang ditemui keluarga ketika turun dari kawasan pegunungan melalui jalur Sopalatu.
Kedua perempuan tersebut disebut memberikan keterangan mengenai aktivitas sejumlah orang di sekitar lokasi sebelum Fikram ditemukan.
Menurut keterangan yang diterima keluarga, kedua saksi mengaku melihat dua orang keluar dari kawasan semak-semak dalam dua hari berturut-turut menjelang penemuan jasad Fikram. Untuk memastikan informasi tersebut, keluarga kemudian memperlihatkan sejumlah foto kepada kedua saksi.
“Dari foto yang diperlihatkan, saksi membenarkan ada dua orang yang mereka kenali pernah berada di sekitar lokasi,” ungkap Tuakia.
Keterangan tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan keluarga meminta polisi mendalami siapa saja yang berada di sekitar kawasan Sopalatu pada waktu-waktu sebelum Fikram ditemukan.
Keluarga Minta Polisi Bongkar Seluruh Rangkaian Peristiwa
Tim kuasa hukum menegaskan bahwa informasi mengenai sejumlah orang tersebut bukan dimaksudkan untuk menghakimi atau menetapkan seseorang sebagai pelaku.
Keluarga menyerahkan proses pembuktian kepada aparat penegak hukum.
Namun, mereka meminta seluruh orang yang diketahui pernah bersama, berkomunikasi, melihat, atau berada di sekitar korban sebelum kematian Fikram diperiksa secara profesional.
“Kami meminta agar kasus ini dibuka secara terang. Semua keterangan saksi dan orang-orang yang berada di sekitar korban sebelum kejadian harus diperiksa agar penyebab kematian Fikram benar-benar terungkap,” tegas Tuakia.
Menurut keluarga, kematian Fikram tidak boleh berhenti pada kesimpulan awal tanpa didukung bukti yang kuat.
Apakah Fikram benar mengakhiri hidupnya sendiri atau terdapat peristiwa lain sebelum korban ditemukan, menurut keluarga, harus dijawab melalui hasil visum, otopsi, pemeriksaan tempat kejadian perkara, keterangan saksi, serta bukti-bukti ilmiah lainnya.
Keluarga berharap penyidik Polres SBB dapat mengungkap kasus tersebut secara transparan dan profesional sehingga seluruh pertanyaan mengenai kematian Fikram Heluth memperoleh jawaban yang jelas.***


















































































