BacaritaMaluku. Com–Piru; Musyawarah Daerah (Musda) Pemuda Muhammadiyah menjadi momentum yang tidak hanya membahas agenda organisasi dan kaderisasi, tetapi juga menghadirkan kejutan dari Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Asri Arman.senin 05/09/26
Dalam sambutannya, Asri Arman secara terbuka memperkenalkan dan menyebut nama Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Maluku, Rimbo Bugis. Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian peserta Musda karena Bupati mengungkapkan bahwa dirinya telah mengenal Rimbo sejak masih sama-sama berada dalam ruang politik legislatif.
Asri Arman mengatakan, hubungan dirinya dengan Rimbo Bugis sudah terjalin sejak dirinya masih menjadi anggota DPRD. Namun, dinamika politik kemudian membuat keduanya berada pada posisi yang berbeda ketika Asri Arman menjabat sebagai Bupati SBB.
“Saya kenal Rimbo sejak saya masih menjadi anggota DPRD. Tetapi ketika saya menjadi Bupati SBB, Rimbo sudah spion kiri dan menjadi lawan saya,” ujar Asri Arman dalam sambutannya.
Meski pernah berada dalam posisi politik yang berbeda, Asri Arman menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak harus menghilangkan hubungan baik secara personal.
Menurutnya, momentum Musda Pemuda Muhammadiyah menjadi ruang untuk kembali membangun komunikasi dan kebersamaan.
“Tapi dengan momentum Musda ini, saya bersama Rimbo hari ini. Rimbo ini orang baik,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dinamika politik tidak selalu harus berujung pada putusnya hubungan sosial dan komunikasi antarpersonal. Perbedaan pilihan maupun posisi politik, menurut pesan yang disampaikan dalam forum tersebut, dapat ditempatkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi.
Kehadiran Bupati SBB dalam Musda Pemuda Muhammadiyah juga memperlihatkan pentingnya hubungan antara pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan. Pemuda Muhammadiyah tidak hanya menjadi bagian dari proses kaderisasi generasi muda, tetapi juga memiliki ruang untuk membangun komunikasi dengan pemerintah dalam mengawal berbagai persoalan sosial dan pembangunan daerah.
Momentum tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam pelaksanaan Musda, ketika perbedaan politik masa lalu justru diungkap secara terbuka di hadapan peserta dan kemudian ditempatkan dalam suasana kebersamaan.
Bagi peserta Musda, pernyataan Asri Arman tentang Rimbo Bugis menjadi pesan bahwa perbedaan politik tidak harus menjadi tembok permanen dalam membangun komunikasi dan kerja bersama untuk kepentingan masyarakat.***


















































































