BacaritaMaluku. Com–SERAM BAGIAN BARAT ; Potret memilukan kembali datang dari Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Seorang warga yang sakit terpaksa dipikul secara bergotong royong oleh warga melintasi jalan rusak, berlumpur, dan sulit dilalui demi mendapatkan pelayanan kesehatan.
Foto yang beredar luas di media sosial itu sontak memantik keprihatinan publik. Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, kenyataan di lapangan menunjukkan masih adanya wilayah yang bergulat dengan keterbatasan infrastruktur dasar, bahkan untuk mengakses layanan kesehatan yang menjadi kebutuhan paling mendasar masyarakat.
Tokoh masyarakat Seram Bagian Barat, Mario Kakisina, menilai peristiwa tersebut menjadi cerminan nyata masih timpangnya pembangunan di sejumlah wilayah pedalaman. Ia meminta Pemerintah Kabupaten SBB menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
“Bupati jangan tebang pilih dalam kebijakan pembangunan di SBB. Masyarakat di wilayah pedalaman seperti Inamosol memiliki hak yang sama untuk menikmati akses jalan yang layak, sebagaimana masyarakat di wilayah lainnya,” tegas Mario.
Menurutnya, buruknya kondisi jalan tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan jiwa, terutama ketika masyarakat membutuhkan penanganan medis darurat. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur bukan lagi sekadar masalah kenyamanan, melainkan menyangkut hak dasar warga untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat dan layak.
Lebih jauh, Mario menegaskan bahwa keterisolasian akibat rusaknya akses jalan turut berdampak pada berbagai sektor lainnya. Aktivitas pendidikan terganggu, distribusi hasil pertanian menjadi sulit, biaya transportasi meningkat, dan roda perekonomian masyarakat berjalan tidak optimal.
“Ketika akses jalan buruk, yang terhambat bukan hanya kendaraan. Kesempatan masyarakat untuk berkembang, memperoleh pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan juga ikut terhambat,” ujarnya.
Karena itu, ia mendesak Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat segera mengambil langkah konkret melalui percepatan pembangunan jalan, jembatan, dan sarana transportasi di Kecamatan Inamosol maupun wilayah-wilayah lain yang masih tertinggal. Pemerataan pembangunan, kata dia, harus diwujudkan sebagai bentuk keadilan sosial bagi seluruh masyarakat SBB.
Sementara itu, masyarakat Inamosol berharap peristiwa yang viral tersebut tidak berhenti sebagai perhatian sesaat di media sosial. Mereka menginginkan kehadiran nyata pemerintah melalui pembangunan akses jalan yang memadai agar warga tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan ketika membawa pasien menuju fasilitas kesehatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur bukan semata-mata soal pembangunan fisik, melainkan menyangkut keselamatan manusia, akses pelayanan publik, dan kualitas hidup masyarakat. Selama masih ada warga yang harus dipikul berjam-jam melewati jalan rusak untuk mendapatkan pengobatan, maka pekerjaan rumah pembangunan di Seram Bagian Barat belum sepenuhnya selesai***


















































































