BacaritaMaluku.com—Manipa, SBB; Gelombang tuntutan keadilan datang dari kaum perempuan Manipa. Melalui pernyataan resmi yang disampaikan Afifa Mas’at Kaplale, para perempuan Manipa menyuarakan desakan agar kasus pengeroyokan terhadap Abdullah Mahu segera diusut tuntas oleh aparat penegak hukum.
Afifa Mas’at Kaplale menyampaikan bahwa aksi demonstrasi yang direncanakan berlangsung pada Rabu, 20 Mei mendatang merupakan bentuk keprihatinan mendalam terhadap kasus kekerasan yang menimpa Abdullah Mahu. Aksi tersebut akan melibatkan ibu rumah tangga, mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga pemuda-pemudi Manipa.
Menurut Afifa, tindakan kekerasan yang dialami Abdullah Mahu merupakan pelanggaran kemanusiaan yang tidak dapat ditoleransi. Ia menilai lambannya penanganan kasus justru menambah luka bagi keluarga korban dan masyarakat luas.
“Kami tidak akan diam. Kami menuntut keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu. Pelaku harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Afifa Mas’at Kaplale dalam rilisnya.
Aksi yang akan digelar tersebut juga menjadi simbol solidaritas dan kepedulian sosial terhadap korban kekerasan. Para peserta nantinya membawa pesan moral bahwa Manipa merupakan daerah yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persaudaraan, sehingga segala bentuk kekerasan harus dilawan dengan cara yang bermartabat dan berkeadilan.
Selain mendesak aparat kepolisian agar bertindak cepat, transparan, dan profesional, Perempuan Manipa juga meminta adanya perlindungan hukum bagi keluarga korban agar tidak mengalami tekanan maupun intimidasi.
Kasus pengeroyokan terhadap Abdullah Mahu sendiri telah menyita perhatian publik, khususnya di Kota Ambon dan wilayah Maluku secara umum.
Afifa Mas’at Kaplale menegaskan bahwa perjuangan yang dilakukan bukan hanya untuk satu korban, tetapi demi menjaga marwah keadilan dan keamanan bersama di tanah Maluku.
Dengan narasi yang tegas namun damai, ia berharap aksi tersebut dapat menjadi pengingat bahwa keadilan harus benar-benar ditegakkan dan tidak boleh ada lagi korban kekerasan di kemudian hari.***















































































