BacaritaMaluku. Com; Pulau Seram, yang sering disebut sebagai “Nusa Ina” atau Pulau Ibu, menyimpan ribuan kisah sejarah yang membentuk identitas masyarakat Maluku hingga kini. Di bagian barat pulau ini, terbentang wilayah Huamual yang pernah menjadi pusat kekuasaan kerajaan besar, serta Desa Laala yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perubahan zaman.
Sejarah mencatat, Kerajaan Huamual berdiri pada tahun 1256 Masehi dan berkembang menjadi salah satu kekuatan politik dan agama yang berpengaruh di Maluku Tengah. Wilayah kekuasaannya sangat luas, membentang dari Tanjung Sial di ujung selatan hingga Tanah Genting Kota Nia di utara, yang dikenal sebagai “Jazirah Huamual”. Tidak hanya daratan, kekuasaan ini juga mencakup pulau-pulau sekitar seperti Buano, Kelang, dan Manipa, dengan ibu kota yang terletak di Negeri Luhu.
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, Huamual telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan besar di Maluku Utara, terutama Ternate. Hubungan ini tidak hanya dalam bidang politik dan perdagangan, tetapi juga menjadi jalur penyebaran agama Islam yang kemudian mengakar kuat di masyarakat setempat. Huamual bahkan menjadi salah satu pusat dakwah Islam yang penting di wilayah tersebut, dan Luhu menjadi pusat penyebaran ajaran ini di pantai timur Huamual.
Namun, kejayaan ini teruji berat ketika terjadi Perang Huamual yang berlangsung selama 50 tahun, tepatnya pada tahun 1602 hingga 1651. Perang ini dipicu oleh persaingan kekuasaan dan upaya monopoli perdagangan rempah-rempah oleh VOC bersama sekutunya. Akibat konflik yang berkepanjangan, sebagian besar wilayah hancur. Konon, dari 99 negeri yang ada di Jazirah Huamual, hanya tersisa satu negeri yang selamat, yaitu Negeri Luhu. Banyak penduduk yang tewas atau terpaksa mengungsi ke daerah lain seperti Ambon, Buru, dan sekitarnya, meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Setelah perang berakhir, wilayah Huamual mengalami masa pemulihan yang panjang. Di bawah pemerintahan kolonial Belanda, kehidupan masyarakat mulai terbentuk kembali, namun jejak sejarah perjuangan dan kehancuran itu tetap terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat hingga kini. Luhu pun tetap menjadi pusat pemerintahan dan budaya yang paling utama di wilayah Huamual hingga saat ini.
Desa Laala terletak di wilayah pantai timur Huamual, yang pada masa lalu merupakan salah satu bagian dari negeri-negeri yang berada di bawah naungan Kerajaan Huamual, dan secara geografis masuk dalam lingkungan yang dikelola oleh Negeri Luhu.
Masyarakat Laala pada awalnya hidup dari hasil bumi, pertanian, perkebunan, dan perdagangan laut, seperti halnya masyarakat Huamual lainnya. Mereka juga memiliki sistem pemerintahan adat sendiri yang dipimpin oleh tokoh-tokoh setempat yang menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Namun, seperti daerah lain di Huamual, Laala juga terkena dampak dari perang dan kebijakan kolonial. Banyak penduduk yang terpaksa berpindah tempat atau mengungsi akibat kekerasan dan tekanan pada masa itu. Namun, hingga saat ini Desa Laala masih tetap ada dan menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Salah satu hal yang membuat Laala dikenal hingga kini adalah keberadaan Masjid Tua Huamual yang terletak di kawasan hutan desa ini. Meskipun catatan tertulis tentang sejarah masjid ini masih terbatas, namun keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa Islam telah hadir dan berkembang di wilayah ini sejak zaman dahulu. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol ketahanan dan keberadaan masyarakat Laala yang tetap teguh memegang teguh ajaran agama dan budaya.
Secara hukum adat, wilayah Laala hingga kini masih diakui sebagai tanah ulayat milik Negeri Luhu. Meskipun secara administratif masuk dalam wilayah Desa Lokki, namun hak kepemilikan dan pengelolaan tanah berdasarkan tradisi leluhur tetap menjadi wewenang dan tanggung jawab masyarakat Luhu. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan sejarah dan kekerabatan antara Laala dan Luhu tidak terputus oleh garis batas administrasi, melainkan tetap terjalin kuat dalam bingkai budaya dan adat istiadat yang sama.
Sejarah Huamual, Negeri Luhu, dan Desa Laala mengajarkan kita tentang ketabahan, perjuangan, dan pentingnya menjaga identitas. Meskipun telah melewati berbagai masa sulit, masyarakat di sini tetap mampu bertahan dan melestarikan warisan leluhur mereka.
Sebagai generasi penerus, sudah menjadi kewajiban kita untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga menjaga dan melestarikan sejarah ini. Baik itu melalui cerita lisan, peninggalan bangunan, maupun nilai-nilai budaya yang masih hidup hingga kini. Huamual, Luhu, dan Laala bukan sekadar nama tempat, melainkan bagian dari jiwa dan sejarah bangsa yang patut kita banggakan.***





















































































