BacaritaMaluku. Com–Merasa bergembira sebagai pematik di Rumah Beta Kreaktif, Rumah Inspirasi, sebagai gerakan intelektual anak muda yang menjebatani nilai teologi Islam dalam realitas kemanusian. Sebagai gerakan sosial dan pendidikan di bumi jazirah Al-Muluk, Rumah Beta Kreaktif, Rumah Inspirasi, tidak hanya memadang agama sebagai doktrin ritual semata, melainkan sebagai mesin pengerak sosial memperdayakan umat, terutama di wilayah pesisir Huamual Seram Bagian Barat
Kiprah kedua Rumah Beta Kreaktif, Rumah Inspirasi ini sebagai wadah inteklektual, dimana gerakan intelektual keimanan bertemu dengan gerakan amal, dalam mewujudkan perubahan sosial. Wadah yang dirintis anak muda potensial dari jazirah Huamual, Seram Bagian Barat ini pengabdiannya dirinya sejak tahun 2020 dalam gerakan sosial dan pendidikan di jazirah Huamual.
Rumah Beta Kreaktif, Rumah Inspirasi melalui edukasi sedekah inspirasi, sedekah kurmah: Merawat Empati Menyalahkan Inspirasi Ramadhan 1447 H, yang dilauching 15 Februari 2026 Kafe Media Ambon Ekspres, dirangkai dengan diskusi pematik/pembicara Fadli Toisuta, Anggota DPRD Kota Ambon, Ismail Borut, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Maluku, Zulkarnain Direktur LAZNAS BMH Maluku.
Seyogyanya Lauching sedekah inspirasi, sedekah kurmah sebagai bentuk aksi sosial menyambut bulan suci ramadhan 1447 H, sebagai transformasi spiritual yang empati dan kepedulian sesama umat Islam di bulan ramadhan. Peluncuran sedekah inspirasi, sedekah kurma, mendapat dukungan dari stakholder anggota DPRD Kota Ambon/Provinsi Maluku, LSM, pengusaha di kota Ambon dalam sedekah kurma. Kurma bukan hanya sebagai tradisi berbuka puasa, tetapi sebagai simbol manisnya berbagi dan kepedulian antar sesama yang di peruntukan masyarakat Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, Kota Ambon di tengah kehidupan masyarakat Maluku yang beragam ini. Hal ini, menepatkan sedekah sebagai pilar utama kesejaterahan umat Islam.
Islam, agama yang menjujung tinggi nilai
solidaritas, memberikan peratihan yang besar terhadap umat Islam. Sedekah sebagai pilar peradaban umat Islam, mengetaskan umat dari kemiskinan dan keterbelakangan, sebagaimana yang di lakukan sahabat Rasulullah SAW, Abu Talhaha yang dermawan hasil pertanian kebun kurma diperuntukan untuk kepentingan umat Islam saat itu, kisah inilah yang diperintahkan Alqur”an surat Ali Imran ayat 92 untuk merahi kebajikan umat Islam, mengeluarkan harta yang dimilikinya untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat Islam.
Dalam Islam, zakat, sedekah dan sejenisnya sebagai pilar utama kebangkitan ekonomi umat Islam. Zakat, sedekah memiliki makna sosial sebagai simbol kepedulian dan rasa berbagi antar sesama umat. Islam mengajarkan kebajikan sebagai “Kullu Ma”rufin shodaqoh” dalam memperdayakan umat Islam dalam bersedekah.
Ramadhan, bagi umat Islam sebagai bulan pembinaan, bulan yang membentuk karakter individu menjadi hamba yang saleh dan takwa. Ramadhan bukan sekedar ibadah spiritual semata, melainkan ibadah sosial sebagai jembatan hati untuk berbagi antar sesama dalam gerakan sedekah dan zakat. Islam tidak hanya mengerakan ibadah vertikal, tetapi ibadah sosial sebagai tuntunan ajaran Islam.
Sedekah di Bulan Ramadhan memiliki nilai
keberkahan yang berlimpah bagi seorang hamba muslim yang menjalankan. Dalam ibadah, umat Islam mengejar satu nilai yang sangat esensial yaitu berkah. Berkah menurut Imam Al-Ghazali di definisikan sebagai “ziyadatul khair” yang mengadung makna bertambahnya kebaikan.
Dalam konteks puasa, nilai keberkahan tidak hanya secara pasif, melainkan harus di jemput melalui aksi nyata. Ketika seorang hamba berpuasa, amal saleh yang dikerjakan mulai dari sedekah membaca Alq’uran hingga memberikan makan orang yang berbuka menjadi mesin pengerak bagi tumbuhnya kebaikan seorang hamba dalam diri dan lingkungan masyarakat
Dalam konteks ini, Ziyadatul khair yang tercermin dalam ibadah puasa, tidak berhenti pada pembersihan jiwa individu, tetapi membuah kesadaran seorang muslim dalam membangun nilai sosial dalam masyarakat.
Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah mental yang melatih kepekaan seorang hamba terhadap realitas sosial. Karena itu, puasa mendorong seorang hamba untuk gemar bersedekah, berzakat, dan seorang hamba yang mampu mengeluarkan sebagian rezekinya kepada yang membutuhkan. Karena itu, keberkahan puasa, tidak hanya berhenti pada ritual pribadi, tetapi berlanjut pada prilaku sosial.



















































































