BacaritaMaluku. Com–Ambon,Maluku– sebuah ruang hidup multikultural, dimana berbagai suku, etnis, dan agama telah hidup selama berabad lamanya. Ia adalah sebuah rumah bersama bagi setiap anak negeri Maluku dalam hidup persaudaraan.
Maluku, memiliki sejarah pajang dalam keharmonisan hidup orang basudara.Filosofis siwalima dan semangat pela gandong telah lama menjadi fondasi kuat yang menyatukan masyarakat Maluku dalam ikatan persaudaraan yang melampui sekat perbedaan.
Namun, di tengah dinamika zaman, tantangan besar sering kali muncul dari ranah politik indentitas yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan anak Maluku. Perbedaan pandangan dan pilihan politik, jika tidak dikelolah dengan bijak dapat mengkaburkan esensi yang telah lama di rawat, dijaga dibumi Maluku. Oleh karena itu, saatnya anak Maluku menyadari bahwa kotentasi politik hanyalah dinamika sesaat dalam demokrasi, bukan alasan untuk menciptakan polarisasi sosial yang berkepajangan di Maluku.
Maluku, sebagai rumah bersama untuk hidup orang basudara baik salam maupun sarane untuk Maluku yang aman dan damai. Maluku kuat, jika kita berdiri bersama-sama bergotong royong, damai bukan datang dengan sendirinya, ia harus di jaga dan di rawat bersama.
Namun, sejarah mencatat bahwa kerentanan konflik horisontal pernah terjadi di Maluku, terutama ketika isu SARA di manipulasi oleh pihak yang tidak bertangung jawab, menuding gubernur Maluku tidak memperhatikan agenda organisasi masyarakat Islam, dimedia watshap group Maluku, sebuah bentuk kebodohan yang dilakukan. Narasi tersebut, dianggap provokatif memecah bela persatuan orang basudara.
Pengamalan pahit di masa lalu, khususnya konflik Maluku, telah memberikan pelajaran bagi seluruh anak Maluku, bahwa provokator sering kali memanfaatkan komunikasi media sebagai cela untuk memecah belah persatuan dan kesatuan demi kepentingan tertentu.
Diera informasi saat ini, tantangan menjaga perdamaian menjadi semakin kompleks, dengan adanya penyembaran Hoax dan narasi kebencian di media sosial. Oleh karena itu, kesadaran kolektif masyarakat menolak provokator SARA bukan sekedar slogan, melainkan sebuah kebutuhan mutlak untuk mempertahankan stabilitas dan keamanan di bumi jazirah Al-Muluk.
Gubernur, menjalankan mandat rakyat, tentu melayani dengan semangat inklusivitas, menjaga kepercayaan rakyat sebagai fondasi utama masyarakat dalam membangun Maluku yang lebih maju, adil dan sejaterah.
Maluku, dibangun atas semangat gotong royong, beragam masyarakat multikultur, hidup orang basudara sebagai cermin orang Maluku dalam semangat siwa lima, pela gandong dibumi Maluku yang tercinta, Maluku pung baik par semua.***



















































































